BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Belajar
merupakan suatu hal yang sering di anggap sepele di kalangan pelajar dan
mahasiswa. Namun, sesungguhnya belajar bukanlah hal yang mudah. Karena untuk
membiasakan belajar setiap hari kita masih harus di paksa oleh orang tua.
Kebanyakan dari pelajar dan mahasiswa sekarang yaitu belajar apabila akan
ulangan, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester. Terkadang pelajar
sering menggunakan sistem SKS ( Sistem Kebut Semalam ). Sistem itu justru tidak
akan mempermudah siswa untuk mengerjakan soal. Namun, akan membuat siswa tidak
fokus karena merasa mengantuk akibat belajar semalam suntuk.apalagi pada
pelajaran fisika sulit mereka fahami jika guru kuranga jelas menyampaikan
materi pada pros pembelajaran.
Belajar
sangat berkaitan erat dengan pembelajaran, apalagi untuk kita sebagai calon
pendidik. Tentunya kita harus bisa meningkatkan belajar siswa dengan cara
membari motifasi sebalum kita mulai pembelajaran kita. Untuk meningkatkan
semangat siswa, kita harus berfikir kreatif dalam memilih metode pembelajaran.
Sehingga siswa akan merasa senang dan tertarik dengan pembelajaran tersebut.
Maka, dengan mudah siswa menerima materi, memahaminya dan akan melekat dalam
diri siswa.denga menggunakan metode yang tepat maka tujuan pemelajaran akan
tercapai
Begitu juga dengan guru yang mengharapkan hasil yang terbaik dalam proses
pembelajaran dengan menerapkan metode agar hasil belajar siswanya bagus. Kompetensi Supervisi
Akademik merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh para guru
satuan pendidikan. Kompetensi ini berkenaan dengan kemampuan guru dalam rangka
pembinaan dan pengembangan kemampuan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran
dan bimbingan di sekolah usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel pengajaran seperti: tujuan, bahan, metode,
alat, dan evaluasi agar dapat mempengaruhi siswa untuk mencapai tujuan yakni
pembelajaran yang efektif dan efisien. Terdapat berbagai macam metode pembelajaran yang dapat digunakan,
salah satunya adalah dengan metode diskusi. Sehingga penulis akan membahas makalah model –
model pembeajaran tujuan model pembelajara,karakteristik dan kelebihan kekurangannya
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian tentang metode ?
2. Apa tujuan
metode?
3. Bagaimana
perbedaan metode dan model pembelajaran?
4. Apa
Jenis-jenis metode?
5. Bagaimana kelemahan-kelemahan metode
ketika digunakan dalam pembelajaran di kelas?
6. Bagaimana kekuatan dari metode ?
BAB II
ISI
2.1 Pengertian Metode Pembelajaran.
Di bawah ini merupakan
pengertian metode pembelajaran menurut beberapa ahli :
2.2 Tujuan Metode Pembelajaran.
Tujuan utama
dalam metode pembelajaran adalah untuk menyampaikan meteri atau pesan yang
terkandung dalam isi kurikulum secara efektif. Sehingga siswa dapat dengan
mudah menerima,memahami, terekam dan tercerna dengan baik.
Berikut ini beberapa tujuan
dari metode pembelajaran :
1.
Menghantarkan para siswa
menuju pada perubahan – perubahan tingkah laku baik intelektual, moral maupun
sosial agar dapat hidupmandiri sebagai individu dan mahkluk sosial.
2.
Rumusan kemampuan yang
diharapkan dimiliki para siswa setelah menempuh berbagai pengalaman belajarnya
( pada akhir pengajaran ).
3.
Untuk tercapainya Tujuan Pendidikan
Nasional yang berbunyi“ mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk mengembangkan potensi pesrta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratif serta bertanggung
jawab “.
2.4
Perbedaan
Metode Dan Model Pembalajaran
a. Metode
pembelajaran
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang
digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk
kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat
beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan
strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi;
(4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8)
debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan
yang telah disusun tercapai secara optimal (Sanjaya, 2008: 147 dalam Adam
Priyadi 2013). Metode dilakukan dengan Teknik dan taktik (penjabaran dari
metode) (Sanjaya, 2008: 127 dalam Adam Priyadi 2013). Teknik adalah cara yang
dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode (contoh
bagaimana agar ceramah dapat efektif?diperhatikan situasi dan kondisinya,
misalnya ceramah pada saat siang dengan siswa yang banyak dengan pagi dengan
siswa yg sedkit tentu saja berbeda tehnik nya). Taktik adalah gaya seseorang
dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu.
a.
Model pembelajaran
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan
bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka
terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model
pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari
awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model
pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan,
metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha
Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, (1990) dalam Adam Priyadi (2013)
mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model
interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model
personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian,
seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan
strategi pembelajaran.
2.4 Jenis – jenis Metode Pembelajaran.
Metode pembelajaran terdiri
dari berbagai macam di antaranya :
A. Metode Ceramah
Metode ceramah dalam proses belajar mengajar sesungguhnya tidak dapat
dikatakan suatu metode yang salah. Hal ini dikarenakan model pengajaran ini
seperti yang dijelaskan diatas terdiri dari beberapa jenis, yang nantinya dapat
dieksploitasi atau dikreasikan menjadi suatu metode ceramah yang menyenangkan,
tidak seperti pada metode ceramah klasik yang terkesan mendongeng. Metode ceramah dalam penerapannya di dalam proses belajar mengajar juga
memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, antara lain :
Kelemahan Metode Ceramah
1. Mudah
menjadi verbalisme.
2. Yang visual menjadi rugi, dan yang auditif (mendengarkan)
yang benar-benar menerimanya.
3. Bila selalu digunakan dan terlalu digunakan dapat membuat
bosan.
4. Keberhasilan metode ini sangat bergantung pada siapa yang
menggunakannya.
5. Cenderung
membuat siswa pasif
Kelebihan
Metode
Ceramah
:
2. Mudah mengorganisasikan tempat duduk / kelas.
3. Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar.
4. Mudah
mempersiapkan dan melaksanakannya.
6. Lebih ekonomis dalam hal waktu.
7. Memberi
kesempatan pada guru untuk menggunakan pengalaman, pengetahuan dan kearifan.
8. Dapat menggunakan bahan pelajaran yang luas
9. Membantu siswa untuk mendengar secara akurat, kritis, dan
penuh perhatian.
10. Jika digunakan dengan tepat maka akan dapat
menstimulasikan dan meningkatkan keinginan belajar siswa dalam bidang
akademik.
11. Dapat
menguatkan bacaan dan belajar siswa dari beberapa sumber lain
B. Metode Demonstrasi
Metode
pembelajaran demonstrasi adalah metode yang sangat efektif untuk menolong siswa
mencari jawaban atas pertanyaan seperti: Bagaimana cara mengaturnya ? Bagaiman
proses bekerjanya? Bagaimana cara mengerjakannya.
Kelebihan metode demonstrasi :
1.
Perhatian siswa dapat lebih di
pusatkan.
2.
Proses belajar siswa lebih
terarah pada materi yang sedang dipelajari.
3.
Pengalaman dan kesan sebagai
hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.
Kelemahan metode demonstrasi :
1.
Siswa kadang kala sukar
melihat dengan jelas benda yang diperagakan.
2.
Tidak semua benda dapat di
demostrasikan.
3.
Sukar dimengerti jika
didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang menguasai apa yang di
demonstratorkan.
C.
Metode Proyek
Istilah proyek diambil dari manual arts (pekerjaan tangan),
di mana siswa harus menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu yang disebut proyek
dimaksud “any wholehearted” ”lifelike” ”activity” apakah itu membuat
sandiwara, mengadakan karyawisata atau menikmati hasil-hasil kesenian. Yang
pokok dalam metode proyek ialah “the active purpose of the learner”.
Siswa itu sendiri harus menerima proyek itu dan melaksanakannya. Kalau siswa
sedang membuat jembatan atas perintah guru, itu bukan suatu proyek. Sebaliknya
jika siswa membaca buku didorong oleh keinginan mencari atau memahami sesuatu,
itu termasuk proyek.
Menurut Ahmadi dan Prasetya (1997:
70) dalam General (2009) mengemukakan bahwa metode proyek (unit) adalah suatu
metode mengajar dimana bahan pelajaran diorganisasikan sedemikian rupa sehingga
merupakan suatu keseluruhan atau kesatuan bulat yang bermakna dan mengandung
suatu pokok masalah.
Sedangkan menurut Roestiyah (1994:
81) dalam General (2009) metode proyek berarti rencana, suatu problem atau
kesulitan, dan bentuk pengajaran dimana murid mengelola sendiri.
Menurut J. Mursell (Sugimal, 2006:
13) dalam General (2009) metode proyek mempunyai empat aspek dalam
pelaksanaannya:
1.
Menentukan tujuan.
2.
Merencanakan.
3.
Melaksanakan.
4.
Menilai.
Keempat aspek itu terdapat dalam kegiatan siswa guna mencapai
tujuannya. Siswa dapat memilih proyek sebagai bagian dari
persyaratan-persyaratan atau sebagai pekerjaan pengayaan dalam suatu pelajaran.
Penugasan (proyek) merupakan tugas yang menyenangkan
sekaligus menantang, karena dalam melaksanakan proyek tersebut siswa perlu
menuangkan segala kemampuan yang dimilikinya serta pengalaman belajar yang
dapat menunjang pelaksanaan proyek tersebut. Dengan mengerjakan proyek,
pengetahuan siswa akan meningkat. Selain itu, kreativitas siswa akan
berkembang.
Dalam melaksanakan proyek siswa secara berkelompok dan
bekerjasama dengan rekan sekelompoknya. Dengan demikian, hubungan sosial dan
rasa solidaritas dengan sesama siswa dapat terlatih.
Pelaksanaan pembelajaran dengan metode proyek akan
menghasilkan suatu hasil proyek yang dapat diamati secara langsung (nyata).
Siswa akan melaporkan penemuannya dengan tertulis, lisan atau dalam beberapa
bentuk penyajian lain di depan kelas, kelompok belajar atau guru. Metode ini
memberikan kesempatan kepada siswa untuk sangat kreatif, selain itu, dengan
mempresentasikan laporan hasil proyek, dapat meningkatkan kemampuan peserta
didik dalam berkomunikasi.
Metode proyek membawa perubahan esensial dalam kegiatan
siswa. Belajar dengan baik tidak tercapai dengan cara penyajian yang
bagaimanapun baiknya. Belajar dengan hasil baik hanya tercapai dengan
membangkitkan kemauan dan kegiatan siswa untuk belajar.
Menurut Ahmadi (1997) dalam General (2009) langkah-langkah pembelajaran dengan
menggunakan metode proyek sebagai berikut:
1.
Penyelidikan (exploration)
Guru mengajukan
pertanyaan lisan, memberi keterangan singkat serta mengetes para pelajar
mengenai pengetahuan mereka tentang mata pelajaran yang akan dipelajari.
2.
Penyajian bahan baru (presentation)
Dengan metode
ceramah, guru memberikan garis besar tentang bahan pelajaran.
3.
Asimilasi/pengumpulan keterangan atau data
Para pelajar mencari
informasi, keterangan atau fakta-fakta untuk mengisi pokok-pokok yang penting.
Dalam langkah ini pelajar mencari data dari sumber-sumber unit (resource
unit = sumber yang berisi berita, fakta, informasi dan sebagainya tentang
unit yang sedang dipelajari).
4.
Mengorganisasikan data (organization)
Dalam langkah ini,
pelajar dibawah pimpinan guru aktif mengorganisasikan data, fakta dan
informasi, missal menggolongkan data, mengolah data untuk mengambil kesimpulan.
Daya berpikir dan daya menganalisis memainkan peran penting dalam langkah ini.
5.
Mengungkapkan kembali (recitation)
Para pelajar
mempertanggungjawabkan atau menyajikan hasil yang diperolehnya. Laporan
pertanggungjawaban ini dapat dilakukan dengan lisan maupun tertulis atau
keduanya. Metode ini memantapkan pengetahuan yang diperoleh anak didik.
Menyalurkan minat dan melatih anak didik menelaah suatu materi pelajaran dengan
wawasan yang lebih luas
Kelebihan
metode proyek
1.
Dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit
menjadi lebih luas dan menyeluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang
dihadapi dalam kehidupan.
2.
Melalui metode ini, anak didik dibina dengan
membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan terpadu, yang
diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
3.
Pengetahuan yang diperoleh fungsional.
4.
Anak-anak belajar bersungguh-sungguh dalam bekerja
bersama.
5.
Anak-anak bertanggung jawab penuh pada pekerjaannya
Kekurangan Metode Proyek
1.
Kurikulum yang berlaku di negara kita saat ini, baik
secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini.
2.
Organisasi bahan pelajaran, perencanaan, dan
pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus dari guru,
sedangkan para guru belum siap untuk ini.
3.
Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai
kebutuhan anak didik, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang
diperlukan.
4.
Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat
mengaburkan pokok unit yang dibahas.
D.
Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan metode yang
dapat membuat siswa aktif karena siswa memperoleh kesempatan berbicara atau
berdialog untuk bertukar pikiran dan informasi tentang suatu topik atau masalah
dan mencari fakta atau pembuktian yang dapat digunakan bagi pemecahan masalah.
Metode diskusi adalah metode mengajar yang erat hubungannya dengan memecahkan
masalah atau problem solving
(Muhibbin Syah,2000 dalam Kanjensuga 2014). Metode diskusi adalah metode
pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan dengan tujuan
untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk
membuat suatu keputusan. Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran di mana
siswa dihadapkan kepada suatu masalah
yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat probematis untuk
dibahas dan dipecahkan bersama (Djamarah dan Aswan: 2006 dalam
Kanjensuga 2014).
Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian materi pelajaran melalui sarana
pertukaran pikiran untuk memecahkan persoalan yang dihadapi (Semiwan,1990: 76 dalam
Kanjensuga 2014),
sedangkan menurut Suryosubroto (1997: 179) dalam Kanjensuga (2014) mengatakan metode diskusi adalah
adalah suatu cara penyajian bahan pengajaran dengan guru memberikan kesempatan
kepada siswa atau kelompok-kelompok untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna
mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun ke berbagai alternatif
pemecahan suatu masalah.
Tujuan dari metode diskusi ini
sendiri adalah untuk menanamkan dan mengembangkan keberanian dalam mengemukakan
pendapat sendiri, mencari kebenaran secara jujur melalui pertimbangan pendapat
yang mungkin saja berbeda antara satu dengan yang lain. Selain itu juga
bertujuan untuk melatih siswa agar belajar menemukan kesepakatan pendapat melalui
musyawarah, dan memberikan kehidupan kelas yang lebih mendekati kegiatan hidup
yang sebenarnya. Salah satu komponen yang sangat menentukan berhasil atau
tidaknya suatu pembelajaran adalah metode yang digunakaan. Metode diskusi
dipilih karena dengan menggunakan metode diskusi ini akan mendorong siswa
berfikir sistematis dengan menghadapkannya kepada masalah-masalah yang akan
dipecahkan. Selain itu dengan menggunakan metode diskusi maka siswa akan
terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Dengan diskusi siswa dapat saling
bertukar informasi dan dapat mempertahankan pendapatnya dalam rangka pemecahan
masalah yang dapat ditinjau dari berbagai segi.
Tugas guru dalam diskusi adalah
dapat bertindak sebagai pimpinan diskusi, mengusahakan jalannya diskusi agar
tidak terjaadi dialog atau hanya sekedar tanya jawab antara guru dan siswa atau
antara dua orang siswa saja, guru sebagai moderator yang dapat mengamankan,
menolak, atau menyampaikan pendapat dan usul-usul kepada peserta diskusi.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam diskusi adalah pemilihan topik
yang akan didiskusikan, dibentuk kelompok-kelompok diskusi, dan para siswa
melakukan diskusi dalam kelompok masing-masing.
Kelemahan
metode diskusi dalam pembelajaran
Metode diskusi apabila diterapkan
dalam pembelajaran juga memiliki kelemahan, seperti tidak dapat dipakai dalam
kelompok yang besar, peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas, dikuasai
oleh anak-anak yang suka bicara, dan biasanya anak menghendaki pendekatan guru
yang lebih formal (Syaiful Bahri Djamarah,2000). Ketika diskusi berlangsung,
anak yang tidak ikut aktif cenderung akan melepaskan diri dari tanggung jawab.
Selain itu juga banyak waktu yang terpakai, kadang-kadang hasilnya tidak sesuai
yang diharapkan. Dalam hal ini penyelesaian hasil diskusi sulit untuk
diramalkan atau diperhitungkan. Diskusi sukar diterapkan di tingkatan sekolah
dasar, tetapi bukan tidak mungkin diterapkan di sekolah dasar. Diskusi
memerlukan ketajaman dalam menangkap inti masalah yang dibicarakan. Hal ini
tidak mudah, sehingga sering dalam diskusi itu keluar dari topik permasalahan.
Dalam prakteknya sering diskusi itu akan diborong oleh beberapa siswa saja,
sedangkan yang lain hanya sebagai pendengar setia walaupun guru sudah memberi
kesempatan kepada semua siswa untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekuatan-kekuatan
dari metode diskusi secara umum
Seperti metode-metode lain, metode
diskusi juga memiliki kekuatan-kekuatan, yakni suasana kelas menjadi hidup,
karena anak akan mengarahkan pemikirannya pada masalah yang sedang
didiskusikan. Partisipasi siswa dalam metode diskusi sangat baik. Siswa
berlatih kritis dengan mempertimbangkan pendapat dari teman-temannya, kemudian
menentukan sikap menerima, menolak, atau tidak berpendapat sama sekali. Metode
diskusi juga dapat menaikkan prestasi kepribadian individual, seperti sikap
toleransi, demokratis, kritis, dan berfikir sistematis. Selain itu juga berguna
dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam alam demokratis. Metode diskusi
merupakan latihan untuk memenuhi peraturan dan tata tertib yang berlaku dalam
musyawarah.
E.
Metode
Eksperimen
Metode percobaan
adalah pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk
dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Syaiful Bahri Djamarah, (2000).
Menurut
Roestiyah (2001:80) dalam Trianto
(2010)
Metode eksperimen adalah suatu cara mengajar, di mana siswa
melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta
menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas
dan dievaluasi oleh guru.
Penggunaan
teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri
berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan
percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah.
Dengan eksperimn siswa menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang
dipelajarinya.
Agar
penggunaan metode eksperimen itu efisien dan efektif, maka perlu diperhatikan
hal-hal sebagai berikut : (a) Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan
percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi
tiap siswa. (b) Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang
meyakinkan, atau mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka kondisi alat dan mutu
bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih. (c) dalam eksperimen
siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan , maka
perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka menemukan pembuktian
kebenaran dari teori yang dipelajari itu. (d) Siswa dalam eksperimen adalah
sedang belajar dan berlatih , maka perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab
mereka disamping memperoleh pengetahuan, pengalaman serta ketrampilan, juga
kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek
eksperimen itu. (e) Tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, seperti masalah
mengenai kejiwaan, beberapa segi kehidupan social dan keyakinan manusia.
Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu alat, sehingga masalah itu
tidak bias diadakan percobaan karena alatnya belum ada.
Prosedur
eksperimen menurut Roestiyah (2001:81)
dalam Trianto (2010) adalah : (a) Perlu
dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksprimen,mereka harus memahami masalah
yang akan dibuktikan melalui eksprimen. (b) memberi penjelasan kepada siswa
tentang alat-alat serta bahan-bahan yang akan dipergunakan dalam eksperimen,
hal-hal yang harus dikontrol dengan ketat, urutan eksperimen, hal-hal yang
perlu dicatat. (c) Selama eksperimen berlangsung guru harus mengawasi pekerjaan
siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan
jalannya eksperimen. (d) Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan
hasil penelitian siswa, mendiskusikan di kelas, dan mengevaluasi dengan tes
atau tanya jawab.
Metode
eksperimen menurut Djamarah (2002:95) adalah cara penyajian pelajaran, di mana
siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari.
Dalam proses belajar mengajar, dengan metode eksperimen, siswa diberi
kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu
proses, mengamati suatu obyek, keadaan atau proses sesuatu. Dengan demikian,
siswa dituntut untuk mengalami sendiri , mencari kebenaran, atau mencoba
mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan dari proses yang
dialaminya itu.
Metode
eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut: Kelebihan metode
eksperimen
1.
Membuat siswa lebih
percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya.
2.
Dalam
membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil
percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
3.
Hasil-hasil percobaan
yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia.
Kekurangan metode eksperimen
1.
Metode ini lebih sesuai
untuk bidang-bidang sains dan teknologi.
2.
metode ini memerlukan
berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan
kadangkala mahal.
3.
Metode ini menuntut
ketelitian, keuletan dan ketabahan.
4.
Setiap percobaan tidak
selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada factor-faktor
tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan atau pengendalian.
Menurut
Schoenherr (1996) yang dikutip oleh Palendeng (2003:81) dalam Trianto (2010)
metode eksperimen adalah metode yang sesuai untuk pembelajaran sains, karena
metode eksprimen mampu memberikan kondisi belajar yang dapat mengembangkan
kemampuan berfikir dan kreativitas secara optimal. Siswa diberi kesempatan
untuk menyusun sendiri konsep-konsep dalam struktur kognitifnya, selanjutnya
dapat diaplikasikan dalam kehidupannya. Dalam metode eksperimen, guru dapat
mengembangkan keterlibatan fisik dan mental, serta emosional siswa. Siswa
mendapat kesempatan untuk melatih ketrampilan proses agar memperoleh hasil
belajar yang maksimal. Pengalaman yang dialami secara langsung dapat tertanam
dalam ingatannya. Keterlibatan fisik dan mental serta emosional siswa
diharapkan dapat diperkenalkan pada suatu cara atau kondisi pembelajaran yang
dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan juga perilaku yang inovatif dan
kreatif.
Pembelajaran dengan metode eksperimen melatih dan mengajar siswa untuk belajar konsep fisika sama halnya dengan seorang ilmuwan fisika. Siswa belajar secara aktif dengan mengikuti tahap-tahap pembelajarannya. Dengan demikian, siswa akan menemukan sendiri konsep sesuai dengan hasil yang diperoleh selama pembelajaran.
Penerapan pembelajaran dengan metode eksperimen akan membantu siswa untuk memahami konsep. Pemahaman konsep dapat diketahui apabila siswa mampu mengutarakan secara lisan, tulisan, maupun aplikasi dalam kehidupannya. Dengan kata lain ,siswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menyebutkan, memberikan contoh, dan menerapkan konsep terkait dengan pokok bahasan .Metode Eksperimen menurut Al-farisi (2005:2) dalam Trianto (2010) adalah metode yang bertitik tolak dari suatu masalah yang hendak dipecahkan dan dalam prosedur kerjanya berpegang pada prinsip metode ilmiah.
Pembelajaran dengan metode eksperimen melatih dan mengajar siswa untuk belajar konsep fisika sama halnya dengan seorang ilmuwan fisika. Siswa belajar secara aktif dengan mengikuti tahap-tahap pembelajarannya. Dengan demikian, siswa akan menemukan sendiri konsep sesuai dengan hasil yang diperoleh selama pembelajaran.
Penerapan pembelajaran dengan metode eksperimen akan membantu siswa untuk memahami konsep. Pemahaman konsep dapat diketahui apabila siswa mampu mengutarakan secara lisan, tulisan, maupun aplikasi dalam kehidupannya. Dengan kata lain ,siswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menyebutkan, memberikan contoh, dan menerapkan konsep terkait dengan pokok bahasan .Metode Eksperimen menurut Al-farisi (2005:2) dalam Trianto (2010) adalah metode yang bertitik tolak dari suatu masalah yang hendak dipecahkan dan dalam prosedur kerjanya berpegang pada prinsip metode ilmiah.
BAB III
KESIMPULAN
Dalam
mewujudkan tujuan pendidikan dan tujuan pengajaran kita mempunyai beberapa
metode yang dapat kita gunakan di pembelajaran. Sehingga kita dapat mempelajari
metode- metode tersebut dan kita sesuaikan dengan meteri yang akan kita
sampaikan kepada siswa. Dengan demikian siswa akan tertarik dan dapat merekam
dan memahami materi yang kita sampaikan. Dalam metode pembelajaran, terdapat
beberapa tujuan yang dapat kita gunakan sebagai motivasi untuk diri kita dalam
menyampaikan pesan yang terkandung dalam kurikulum.
DAFTAR PUSTAKA
Adampriyadi.(2013). perbedaan-metode-pembelajaran
model-pembelajaran-dan-
pendekatan-pembelajaran.Diambil dari
Bio
Sanjaya.(2012).Metode-Pembelajaran-dan-Jenisnya.Diambil
dari
Djamarah Syaiful Bahri,
& Aswan Zain,
(2006).
Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rineka Cipta.
General.(2009).Pembelajaran-Dengan-Metode-Proyek.Diambil
dari
Kanjensuga.(2014).Makalah-Metode-Diskusi.
Diambil dari
Soetomo,(1993).Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Usaha Nasional.
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai.(2010).
Media Pembelajaran. Bandung : Sinar Baru
Algensindo.
Trianto, M.Pd, (2010). Mengembangkan
Model Pembelajaran Tematik. Jakarta :
PT.Prestasi
Pustakaraya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar