Minggu, 22 November 2015

Makalah Metode Pembelajaran fisika




BAB I

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Belajar merupakan suatu hal yang sering di anggap sepele di kalangan pelajar dan mahasiswa. Namun, sesungguhnya belajar bukanlah hal yang mudah. Karena untuk membiasakan belajar setiap hari kita masih harus di paksa oleh orang tua. Kebanyakan dari pelajar dan mahasiswa sekarang yaitu belajar apabila akan ulangan, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester. Terkadang pelajar sering menggunakan sistem SKS ( Sistem Kebut Semalam ). Sistem itu justru tidak akan mempermudah siswa untuk mengerjakan soal. Namun, akan membuat siswa tidak fokus karena merasa mengantuk akibat belajar semalam suntuk.apalagi pada pelajaran fisika sulit mereka fahami jika guru kuranga jelas menyampaikan materi pada pros pembelajaran.
Belajar sangat berkaitan erat dengan pembelajaran, apalagi untuk kita sebagai calon pendidik. Tentunya kita harus bisa meningkatkan belajar siswa dengan cara membari motifasi sebalum kita mulai pembelajaran kita. Untuk meningkatkan semangat siswa, kita harus berfikir kreatif dalam memilih metode pembelajaran. Sehingga siswa akan merasa senang dan tertarik dengan pembelajaran tersebut. Maka, dengan mudah siswa menerima materi, memahaminya dan akan melekat dalam diri siswa.denga menggunakan metode yang tepat maka tujuan pemelajaran akan tercapai Begitu juga dengan guru yang mengharapkan hasil yang terbaik dalam proses pembelajaran dengan menerapkan metode agar hasil belajar siswanya bagus. Kompetensi Supervisi Akademik merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh para guru satuan pendidikan. Kompetensi ini berkenaan dengan kemampuan guru dalam rangka pembinaan dan pengembangan kemampuan guru untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan bimbingan di sekolah usaha guru dalam menggunakan beberapa variabel  pengajaran seperti: tujuan, bahan, metode, alat, dan evaluasi agar dapat mempengaruhi siswa untuk mencapai tujuan yakni pembelajaran yang efektif dan efisien. Terdapat berbagai macam metode pembelajaran yang dapat digunakan, salah satunya adalah dengan metode diskusi. Sehingga penulis akan membahas makalah model – model pembeajaran tujuan model pembelajara,karakteristik dan kelebihan kekurangannya

1.2 Rumusan Masalah

1.      Apa  pengertian tentang metode ?
2.      Apa tujuan metode?
3.      Bagaimana perbedaan metode dan model pembelajaran?
4.      Apa Jenis-jenis metode?
5.      Bagaimana kelemahan-kelemahan metode ketika digunakan dalam pembelajaran di kelas?
6.      Bagaimana kekuatan dari metode ?

BAB II

ISI

2.1  Pengertian Metode Pembelajaran.

Di bawah ini merupakan pengertian metode pembelajaran menurut beberapa ahli :
*                  Menurut Nana Sudjana (2005:76) dalam Sanjaya (2012) metode pembelajaran adalah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran.
*                  Menurut M.Sobri Sutikno (2009:88) dalam Sanjaya (2012) metode pembelajaran adalah cara – cara menyajikan materi pelajaran yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses pembelajaran pada diri siswa dalam upaya untuk mencapai tujuan.
*                  Menurut WJS. Poerwadarminta dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (1999:767) dalam Sanjaya (2012) metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik – baik untuk mencapai suatu maksud.
*                  Dari beberapa definisi di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa metode pembelajaran adalah suatu cara yang digunakan untuk menyampaikan materi yang terkandung dalam isi kurikulum secara efektif.
*                   

2.2 Tujuan Metode Pembelajaran.

Tujuan utama dalam metode pembelajaran adalah untuk menyampaikan meteri atau pesan yang terkandung dalam isi kurikulum secara efektif. Sehingga siswa dapat dengan mudah menerima,memahami, terekam dan tercerna dengan baik.
Berikut ini beberapa tujuan dari metode pembelajaran :
1.      Menghantarkan para siswa menuju pada perubahan – perubahan tingkah laku baik intelektual, moral maupun sosial agar dapat hidupmandiri sebagai individu dan mahkluk sosial.
2.      Rumusan kemampuan yang diharapkan dimiliki para siswa setelah menempuh berbagai pengalaman belajarnya ( pada akhir pengajaran ).
3.      Untuk tercapainya Tujuan Pendidikan Nasional yang berbunyi“ mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradapan bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi pesrta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratif serta bertanggung jawab “.
2.4  Perbedaan Metode Dan Model Pembalajaran
a.      Metode pembelajaran
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal (Sanjaya, 2008: 147 dalam Adam Priyadi 2013). Metode dilakukan dengan Teknik dan taktik (penjabaran dari metode) (Sanjaya, 2008: 127 dalam Adam Priyadi 2013). Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode (contoh bagaimana agar ceramah dapat efektif?diperhatikan situasi dan kondisinya, misalnya ceramah pada saat siang dengan siswa yang banyak dengan pagi dengan siswa yg sedkit tentu saja berbeda tehnik nya). Taktik adalah gaya seseorang dalam melaksanakan suatu teknik atau metode tertentu.
a.      Model pembelajaran
Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, (1990) dalam Adam Priyadi (2013) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

2.4 Jenis – jenis  Metode Pembelajaran.

Metode pembelajaran terdiri dari berbagai macam di antaranya :
A.    Metode Ceramah
            Metode ceramah dalam proses belajar mengajar sesungguhnya tidak dapat dikatakan suatu metode yang salah. Hal ini dikarenakan model pengajaran ini seperti yang dijelaskan diatas terdiri dari beberapa jenis, yang nantinya dapat dieksploitasi atau dikreasikan menjadi suatu metode ceramah yang menyenangkan, tidak seperti pada metode ceramah klasik yang terkesan mendongeng. Metode ceramah dalam penerapannya di dalam proses belajar mengajar juga memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan, antara lain :
Kelemahan Metode Ceramah
1.      Mudah menjadi verbalisme.
2.      Yang visual menjadi rugi, dan yang auditif (mendengarkan) yang benar-benar menerimanya.
3.      Bila selalu digunakan dan terlalu digunakan dapat membuat bosan.
4.      Keberhasilan metode ini sangat bergantung pada siapa yang menggunakannya.
5.      Cenderung membuat siswa pasif
Kelebihan Metode Ceramah :
1.      Guru mudah menguasai kelas.
2.      Mudah mengorganisasikan tempat duduk / kelas.
3.      Dapat diikuti oleh jumlah siswa yang besar.
4.      Mudah mempersiapkan dan melaksanakannya.
5.      Guru mudah menerangkan pelajaran dengan baik.
6.      Lebih ekonomis dalam hal waktu.
7.      Memberi kesempatan pada guru untuk menggunakan pengalaman, pengetahuan dan kearifan.
8.      Dapat menggunakan bahan pelajaran yang luas
9.      Membantu siswa untuk mendengar secara akurat, kritis, dan penuh perhatian.
10.  Jika digunakan dengan tepat maka akan dapat menstimulasikan dan meningkatkan keinginan  belajar siswa dalam bidang akademik.
11.  Dapat menguatkan bacaan dan belajar siswa dari beberapa sumber lain

B.     Metode Demonstrasi
Metode pembelajaran demonstrasi adalah metode yang sangat efektif untuk menolong siswa mencari jawaban atas pertanyaan seperti: Bagaimana cara mengaturnya ? Bagaiman proses bekerjanya? Bagaimana cara mengerjakannya.
Kelebihan metode demonstrasi :
1.      Perhatian siswa dapat lebih di pusatkan.
2.      Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari.
3.      Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.
Kelemahan metode demonstrasi :
1.      Siswa kadang kala sukar melihat dengan jelas benda yang diperagakan.
2.      Tidak semua benda dapat di demostrasikan.
3.      Sukar dimengerti jika didemonstrasikan oleh pengajar yang kurang menguasai apa yang di demonstratorkan.

C.    Metode Proyek
Istilah proyek diambil dari manual arts (pekerjaan tangan), di mana siswa harus menyelesaikan suatu pekerjaan tertentu yang disebut proyek dimaksud “any wholehearted” ”lifelike” ”activity” apakah itu membuat sandiwara, mengadakan karyawisata atau menikmati hasil-hasil kesenian. Yang pokok dalam metode proyek ialah “the active purpose of the learner”. Siswa itu sendiri harus menerima proyek itu dan melaksanakannya. Kalau siswa sedang membuat jembatan atas perintah guru, itu bukan suatu proyek. Sebaliknya jika siswa membaca buku didorong oleh keinginan mencari atau memahami sesuatu, itu termasuk proyek.
            Menurut Ahmadi dan Prasetya (1997: 70) dalam General (2009) mengemukakan bahwa metode proyek (unit) adalah suatu metode mengajar dimana bahan pelajaran diorganisasikan sedemikian rupa sehingga merupakan suatu keseluruhan atau kesatuan bulat yang bermakna dan mengandung suatu pokok masalah.
            Sedangkan menurut Roestiyah (1994: 81) dalam General (2009) metode proyek berarti rencana, suatu problem atau kesulitan, dan bentuk pengajaran dimana murid mengelola sendiri.    
            Menurut J. Mursell (Sugimal, 2006: 13) dalam General (2009) metode proyek mempunyai empat aspek dalam pelaksanaannya:
1.      Menentukan tujuan.
2.      Merencanakan.
3.      Melaksanakan.
4.      Menilai.
Keempat aspek itu terdapat dalam kegiatan siswa guna mencapai tujuannya. Siswa dapat memilih proyek sebagai bagian dari persyaratan-persyaratan atau sebagai pekerjaan pengayaan dalam suatu pelajaran.
Penugasan (proyek) merupakan tugas yang menyenangkan sekaligus menantang, karena dalam melaksanakan proyek tersebut siswa perlu menuangkan segala kemampuan yang dimilikinya serta pengalaman belajar yang dapat menunjang pelaksanaan proyek tersebut. Dengan mengerjakan proyek, pengetahuan siswa akan meningkat. Selain itu, kreativitas siswa akan berkembang.
Dalam melaksanakan proyek siswa secara berkelompok dan bekerjasama dengan rekan sekelompoknya. Dengan demikian, hubungan sosial dan rasa solidaritas dengan sesama siswa dapat terlatih.
Pelaksanaan pembelajaran dengan metode proyek akan menghasilkan suatu hasil proyek yang dapat diamati secara langsung (nyata). Siswa akan melaporkan penemuannya dengan tertulis, lisan atau dalam beberapa bentuk penyajian lain di depan kelas, kelompok belajar atau guru. Metode ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk sangat kreatif, selain itu, dengan mempresentasikan laporan hasil proyek, dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam berkomunikasi.
Metode proyek membawa perubahan esensial dalam kegiatan siswa. Belajar dengan baik tidak tercapai dengan cara penyajian yang bagaimanapun baiknya. Belajar dengan hasil baik hanya tercapai dengan membangkitkan kemauan dan kegiatan siswa untuk belajar.
Menurut Ahmadi (1997) dalam General (2009)  langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode proyek sebagai berikut:
1.      Penyelidikan (exploration)
Guru mengajukan pertanyaan lisan, memberi keterangan singkat serta mengetes para pelajar mengenai pengetahuan mereka tentang mata pelajaran yang akan dipelajari.
2.      Penyajian bahan baru (presentation)
Dengan metode ceramah, guru memberikan garis besar tentang bahan pelajaran.
3.      Asimilasi/pengumpulan keterangan atau data
Para pelajar mencari informasi, keterangan atau fakta-fakta untuk mengisi pokok-pokok yang penting. Dalam langkah ini pelajar mencari data dari sumber-sumber unit (resource unit = sumber yang berisi berita, fakta, informasi dan sebagainya tentang unit yang sedang dipelajari).
4.      Mengorganisasikan data (organization)
Dalam langkah ini, pelajar dibawah pimpinan guru aktif mengorganisasikan data, fakta dan informasi, missal menggolongkan data, mengolah data untuk mengambil kesimpulan. Daya berpikir dan daya menganalisis memainkan peran penting dalam langkah ini.
5.      Mengungkapkan kembali (recitation)
Para pelajar mempertanggungjawabkan atau menyajikan hasil yang diperolehnya. Laporan pertanggungjawaban ini dapat dilakukan dengan lisan maupun tertulis atau keduanya. Metode ini memantapkan pengetahuan yang diperoleh anak didik. Menyalurkan minat dan melatih anak didik menelaah suatu materi pelajaran dengan wawasan yang lebih luas
Kelebihan metode proyek
1.      Dapat merombak pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyeluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan.
2.      Melalui metode ini, anak didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan terpadu, yang diharapkan praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
3.      Pengetahuan yang diperoleh fungsional.
4.      Anak-anak belajar bersungguh-sungguh dalam bekerja bersama.
5.      Anak-anak bertanggung jawab penuh pada pekerjaannya
Kekurangan Metode Proyek
1.      Kurikulum yang berlaku di negara kita saat ini, baik secara vertikal maupun horizontal, belum menunjang pelaksanaan metode ini.
2.      Organisasi bahan pelajaran, perencanaan, dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan keahlian khusus dari guru, sedangkan para guru belum siap untuk ini.
3.      Harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan anak didik, cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan.
4.      Bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.

D.    Metode Diskusi
            Metode diskusi merupakan metode yang dapat membuat siswa aktif karena siswa memperoleh kesempatan berbicara atau berdialog untuk bertukar pikiran dan informasi tentang suatu topik atau masalah dan mencari fakta atau pembuktian yang dapat digunakan bagi pemecahan masalah. Metode diskusi adalah metode mengajar yang erat hubungannya dengan memecahkan masalah atau problem solving (Muhibbin Syah,2000 dalam Kanjensuga 2014). Metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menghadapkan siswa pada suatu permasalahan dengan tujuan untuk memecahkan suatu permasalahan, menjawab pertanyaan, menambah  dan memahami pengetahuan siswa, serta untuk membuat suatu keputusan. Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran di mana siswa dihadapkan  kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat probematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama (Djamarah dan Aswan: 2006 dalam Kanjensuga 2014). Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian materi pelajaran melalui sarana pertukaran pikiran untuk memecahkan persoalan yang dihadapi (Semiwan,1990: 76 dalam Kanjensuga 2014), sedangkan menurut Suryosubroto (1997: 179) dalam Kanjensuga (2014) mengatakan metode diskusi adalah adalah suatu cara penyajian bahan pengajaran dengan guru memberikan kesempatan kepada siswa atau kelompok-kelompok untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun ke berbagai alternatif pemecahan suatu masalah.
            Tujuan dari metode diskusi ini sendiri adalah untuk menanamkan dan mengembangkan keberanian dalam mengemukakan pendapat sendiri, mencari kebenaran secara jujur melalui pertimbangan pendapat yang mungkin saja berbeda antara satu dengan yang lain. Selain itu juga bertujuan untuk melatih siswa agar belajar menemukan kesepakatan pendapat melalui musyawarah, dan memberikan kehidupan kelas yang lebih mendekati kegiatan hidup yang sebenarnya. Salah satu komponen yang sangat menentukan berhasil atau tidaknya suatu pembelajaran adalah metode yang digunakaan. Metode diskusi dipilih karena dengan menggunakan metode diskusi ini akan mendorong siswa berfikir sistematis dengan menghadapkannya kepada masalah-masalah yang akan dipecahkan. Selain itu dengan menggunakan metode diskusi maka siswa akan terlibat aktif dalam proses belajar mengajar. Dengan diskusi siswa dapat saling bertukar informasi dan dapat mempertahankan pendapatnya dalam rangka pemecahan masalah yang dapat ditinjau dari berbagai segi.
            Tugas guru dalam diskusi adalah dapat bertindak sebagai pimpinan diskusi, mengusahakan jalannya diskusi agar tidak terjaadi dialog atau hanya sekedar tanya jawab antara guru dan siswa atau antara dua orang siswa saja, guru sebagai moderator yang dapat mengamankan, menolak, atau menyampaikan pendapat dan usul-usul kepada peserta diskusi. Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam diskusi adalah pemilihan topik yang akan didiskusikan, dibentuk kelompok-kelompok diskusi, dan para siswa melakukan diskusi dalam kelompok masing-masing.
Kelemahan metode diskusi dalam pembelajaran
            Metode diskusi apabila diterapkan dalam pembelajaran juga memiliki kelemahan, seperti tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar, peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas, dikuasai oleh anak-anak yang suka bicara, dan biasanya anak menghendaki pendekatan guru yang lebih formal (Syaiful Bahri Djamarah,2000). Ketika diskusi berlangsung, anak yang tidak ikut aktif cenderung akan melepaskan diri dari tanggung jawab. Selain itu juga banyak waktu yang terpakai, kadang-kadang hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Dalam hal ini penyelesaian hasil diskusi sulit untuk diramalkan atau diperhitungkan. Diskusi sukar diterapkan di tingkatan sekolah dasar, tetapi bukan tidak mungkin diterapkan di sekolah dasar. Diskusi memerlukan ketajaman dalam menangkap inti masalah yang dibicarakan. Hal ini tidak mudah, sehingga sering dalam diskusi itu keluar dari topik permasalahan. Dalam prakteknya sering diskusi itu akan diborong oleh beberapa siswa saja, sedangkan yang lain hanya sebagai pendengar setia walaupun guru sudah memberi kesempatan kepada semua siswa untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekuatan-kekuatan dari metode diskusi secara umum
            Seperti metode-metode lain, metode diskusi juga memiliki kekuatan-kekuatan, yakni suasana kelas menjadi hidup, karena anak akan mengarahkan pemikirannya pada masalah yang sedang didiskusikan. Partisipasi siswa dalam metode diskusi sangat baik. Siswa berlatih kritis dengan mempertimbangkan pendapat dari teman-temannya, kemudian menentukan sikap menerima, menolak, atau tidak berpendapat sama sekali. Metode diskusi juga dapat menaikkan prestasi kepribadian individual, seperti sikap toleransi, demokratis, kritis, dan berfikir sistematis. Selain itu juga berguna dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam alam demokratis. Metode diskusi merupakan latihan untuk memenuhi peraturan dan tata tertib yang berlaku dalam musyawarah.

E.  Metode Eksperimen
            Metode percobaan adalah pemberian kesempatan kepada anak didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan. Syaiful Bahri Djamarah, (2000).
            Menurut Roestiyah (2001:80) dalam Trianto (2010) Metode eksperimen adalah suatu cara mengajar, di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaluasi oleh guru.
            Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga siswa dapat terlatih dalam cara berfikir yang ilmiah. Dengan eksperimn siswa menemukan bukti kebenaran dari teori sesuatu yang sedang dipelajarinya.
            Agar penggunaan metode eksperimen itu efisien dan efektif, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : (a) Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi tiap siswa. (b) Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan bukti yang meyakinkan, atau mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka kondisi alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih. (c) dalam eksperimen siswa perlu teliti dan konsentrasi dalam mengamati proses percobaan , maka perlu adanya waktu yang cukup lama, sehingga mereka menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari itu. (d) Siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan berlatih , maka perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab mereka disamping memperoleh pengetahuan, pengalaman serta ketrampilan, juga kematangan jiwa dan sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek eksperimen itu. (e) Tidak semua masalah bisa dieksperimenkan, seperti masalah mengenai kejiwaan, beberapa segi kehidupan social dan keyakinan manusia. Kemungkinan lain karena sangat terbatasnya suatu alat, sehingga masalah itu tidak bias diadakan percobaan karena alatnya belum ada.
            Prosedur eksperimen menurut Roestiyah (2001:81) dalam Trianto (2010) adalah : (a) Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan eksprimen,mereka harus memahami masalah yang akan dibuktikan melalui eksprimen. (b) memberi penjelasan kepada siswa tentang alat-alat serta bahan-bahan yang akan dipergunakan dalam eksperimen, hal-hal yang harus dikontrol dengan ketat, urutan eksperimen, hal-hal yang perlu dicatat. (c) Selama eksperimen berlangsung guru harus mengawasi pekerjaan siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang kesempurnaan jalannya eksperimen. (d) Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan hasil penelitian siswa, mendiskusikan di kelas, dan mengevaluasi dengan tes atau tanya jawab.
            Metode eksperimen menurut Djamarah (2002:95) adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar, dengan metode eksperimen, siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, keadaan atau proses sesuatu. Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami sendiri , mencari kebenaran, atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan dari proses yang dialaminya itu.
            Metode eksperimen mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagai berikut: Kelebihan metode eksperimen
1.    Membuat siswa lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya.
2.    Dalam membina siswa untuk membuat terobosan-terobosan baru dengan penemuan dari hasil percobaannya dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.
3.    Hasil-hasil percobaan yang berharga dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran umat manusia.
Kekurangan metode eksperimen
1.    Metode ini lebih sesuai untuk bidang-bidang sains dan teknologi.
2.    metode ini memerlukan berbagai fasilitas peralatan dan bahan yang tidak selalu mudah diperoleh dan kadangkala mahal.
3.    Metode ini menuntut ketelitian, keuletan dan ketabahan.
4.    Setiap percobaan tidak selalu memberikan hasil yang diharapkan karena mungkin ada factor-faktor tertentu yang berada di luar jangkauan kemampuan atau pengendalian.
            Menurut Schoenherr (1996) yang dikutip oleh Palendeng (2003:81) dalam Trianto (2010) metode eksperimen adalah metode yang sesuai untuk pembelajaran sains, karena metode eksprimen mampu memberikan kondisi belajar yang dapat mengembangkan kemampuan berfikir dan kreativitas secara optimal. Siswa diberi kesempatan untuk menyusun sendiri konsep-konsep dalam struktur kognitifnya, selanjutnya dapat diaplikasikan dalam kehidupannya. Dalam metode eksperimen, guru dapat mengembangkan keterlibatan fisik dan mental, serta emosional siswa. Siswa mendapat kesempatan untuk melatih ketrampilan proses agar memperoleh hasil belajar yang maksimal. Pengalaman yang dialami secara langsung dapat tertanam dalam ingatannya. Keterlibatan fisik dan mental serta emosional siswa diharapkan dapat diperkenalkan pada suatu cara atau kondisi pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan juga perilaku yang inovatif dan kreatif.
            Pembelajaran dengan metode eksperimen melatih dan mengajar siswa untuk belajar konsep fisika sama halnya dengan seorang ilmuwan fisika. Siswa belajar secara aktif dengan mengikuti tahap-tahap pembelajarannya. Dengan demikian, siswa akan menemukan sendiri konsep sesuai dengan hasil yang diperoleh selama pembelajaran.
            Penerapan pembelajaran dengan metode eksperimen akan membantu siswa untuk memahami konsep. Pemahaman konsep dapat diketahui apabila siswa mampu mengutarakan secara lisan, tulisan, maupun aplikasi dalam kehidupannya. Dengan kata lain ,siswa memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menyebutkan, memberikan contoh, dan menerapkan konsep terkait dengan pokok bahasan .Metode Eksperimen menurut Al-farisi (2005:2) dalam Trianto (2010) adalah metode yang bertitik tolak dari suatu masalah yang hendak dipecahkan dan dalam prosedur kerjanya berpegang pada prinsip metode ilmiah.


BAB III

KESIMPULAN

Dalam mewujudkan tujuan pendidikan dan tujuan pengajaran kita mempunyai beberapa metode yang dapat kita gunakan di pembelajaran. Sehingga kita dapat mempelajari metode- metode tersebut dan kita sesuaikan dengan meteri yang akan kita sampaikan kepada siswa. Dengan demikian siswa akan tertarik dan dapat merekam dan memahami materi yang kita sampaikan. Dalam metode pembelajaran, terdapat beberapa tujuan yang dapat kita gunakan sebagai motivasi untuk diri kita dalam menyampaikan pesan yang terkandung dalam kurikulum.


DAFTAR PUSTAKA

Adampriyadi.(2013). perbedaan-metode-pembelajaran model-pembelajaran-dan- 
           pendekatan-pembelajaran.Diambil dari  

Bio Sanjaya.(2012).Metode-Pembelajaran-dan-Jenisnya.Diambil dari   

Djamarah Syaiful Bahri, & Aswan Zain, (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:                                                                                                    
          Rineka Cipta.

General.(2009).Pembelajaran-Dengan­-Metode-Proyek.Diambil dari

Kanjensuga.(2014).Makalah-Metode-Diskusi. Diambil dari

Soetomo,(1993).Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Usaha Nasional.

     Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai.(2010). Media Pembelajaran. Bandung : Sinar Baru                                 
              Algensindo.

Trianto, M.Pd, (2010). Mengembangkan Model Pembelajaran TematikJakarta :                    
       PT.Prestasi Pustakaraya